Jumat, 06 November 2015

renungan di ujung malam

Dingin malam berbanding lurus dengan dingin hati
Tak sepantasnya ada keluhan jika dari atas alas tidur ini aku masih bisa menatap atap rumah dari cor coran semen, kokoh dibuat semacam jembatan tapi itu bukan jembatan kok tapi rumah kami.
Selalu tersimpulkan di ujung ujungnya aku yang tak mau jadi diriku.
Tak sepantasnya ada air mata di ujung mata jika perut ini sudah penuj terganjal indomie telur yang sudah suami buatkan.
Haruskah diabaikan gelisah hati yang kian lama kian menggerogoti.
Lava itu sudah menjadi dingin.
Mengeras menjadi batu baru berwarna abu abu.
Dia akan selalu disitu menempel di punggung sang gunung.
Untuk diabaikan tentu karena penampakannya yang tak semulia batu yang dianggap mulia.
Mungkin untuk digempur saja menjadi batu kricak.
Sebelum dan sesudahnya tetap terabaikan.
Demikian metafora diriku di malam ini sebagai lava yang mengeras tadi.
Dilontarkan keluar dari kehidupannya yang dahulu ke lingkungan yang baru ke kehidupan yang baru.
Aku mungkin akan menulis puisi lagi atau apapun, sampai saat itu selamatlah malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar